Thursday, February 4, 2010

Nonito Donaire: Pimpin para Bintang Filipina di Luar Pacquiao

Filipina bagaikan mata air petinju di dunia ini. Jago-jago baru terus bermunculan dan menjadi bintang di panggung- panggung tinju bergengsi di New York, California, dan Las Vegas. Selain Manny Pacquiao yang sinarnya masih cemerlang di jagad tinju AS (baca: dunia), masih cukup banyak nama yang sinarnya cukup terang: Nonito Donaire, Rodel Mayol, Donnie Nietes dan Z Gorres (sayang, Gorres mengalami cedera otak dalam suatu pertandingan di AS, dan mengharuskannya pensiun dini).

Donaire, pada 7 Juli 2007, berhasil merengkuh sabuk gelar IBF kelas terbang dengan mengkandaskan petinju favorit sekaligus juara bertahan asal Australia, Vic Darchinyan, dengan TKO ronde 5. Angka 7-7-07 itu memang hari bersejarah bagi tinju Filipina, karena dua petinju non unggulan, Donaire dan Florante Condes berhasil meraih juara dunia. Condes menumbangkan M. Rachman guna merebut juara kelas terbang mini IBF di Jakarta.

Kini Donaire (rekor: 22-1, 14 KO) berstatus sebagai juara interim WBA kelas terbang super yang direbutnya bulan Agustus tahun lalu di Las Vegas. Akhir pekan ini, 13/1, tepatnya di Las Vegas Hilton, Las Vegas, Donaire akan menghadapi penantangnya asal Meksiko, Gerson Guerrero (34-8, 26 KO). Di antara bintang Pinoy di luar Pacquiao, Donaire adalah bintang cemerlang. Domisilinya di AS sangat membantu karirnya yang memang sudah sangat cemerlang.

Selain para juara yang sudah matang, kini FIlipina masih memiliki 'stok' petinju muda yang sedang mengorbit: Ciso Morales dan Marvin Sonsona. Bravo Filipina!

16 comments:

Anonymous said...

benar bung, Filipina memang memang memiliki sejarah panjang di kiblat tinju dunia, karena tinju memang salah satu olahraga yang disukai disana, dengan frekwensi pertandingan yang tinggi dan atmosfer tinju yang bagus sudah tentu akan melahirkan talenta-talenta yang hebat pula, coba bandingkan dengan iklim tinju kita, masih syukur kita punya CJ dan DY

Anonymous said...

marvin sonsona tanding tanggal 27 februari

Aryo Sulkhan said...

Ya mmg Filipina lg naik daun, ini mirip seperti awal2 tinju pro di indonesia dgn hadirnya GTPI bbrp thn silam. Ptnju2 yg turun dgn kualitas tinggi, ingat saat Sasana B.Buana merajai di tiap kelas oleh CJ, Sonny & Arthur Rambing, Ferdinand, jg ptnju2 sasana besar lainnya, sepeti Rio & Roy Saragih, M.Alfaridzi & M.Arief Al Mahdy, Soleh Sundava, dll. Lalu sempat GTPI dibuat 2x seminggu krn animo masyarakat jg tinggi & ptnju2nya mmg berkualitas.
Skrg ini sy & mgkn temen2 yg lain berharap akan terulang lg kondisi puncak tinju pro Indonesia seperti pd masa itu. :)

Anonymous said...

Btk Bung Aryo..
sy jg berharap bgtu

JP said...

Ingat, dari masa booming tinju di TV, telah lahir dua juara dunia: CJ dan M. Rachman, juga Daud Yordan.

Namun juga ada sisi negatifnya, yakni kematian beruntun petinju Indonesia di ring.

Max_Muscle said...

Selain tiga petinju tsb,nama2 spt Adrian Kaspari,Anis Roga juga Soleh Sundava sangat mendominasi tinju indonesia, tetapi sayang mereka gagal jadi juara dunia walaupun sudah memiliki kesempatan 2kali,kecuali Sundava yg waktu itu memang kalah bersaing dng CJ.

Utk era sekarang ini Izack Junior sepertinya memiliki peluang utk bersinar,dan tentu saja Roy Muklish saat ini juga harus kita sejajarkan dng DY

Aryo Sulkhan said...

Ya, Roy Mukhlis ptnju bagus, perkembangan tehniknya sngt pesat, tp baru saja kmrn sy bertemu dgn Roy dia blng bahwa blm ada jadwal fight lg. Pdhl seharusnya ptnju sekelas Roy hrs sering2 bertanding utk meningkatkan kualitasnya. Setajam apapun pisau namun bila tdk diasah lama2 akan tumpul jg. Bertanding sajalah meski mgkn dgn honor yg krng sesuai, yg penting terus & sering mengasah kemampuan utk menghindari ketumpulan. Dgn seringnya bertanding, promotor dlm maupun LN pasti akan tertarik mementaskannya di event yg bergengsi krn Roy Mukhlis mmg memiliki kualitas. :)

Anonymous said...

iya kapn roy tanding lagi

Anonymous said...

sayang sekali ya bung aryo, kesempatan manggung sepertinya semakin langka saja, jangan2 banyak petinju yang banting haluan nih,

Max_Muscle said...

Bung Aryo,apa yg menyebabkan Roy jarang bertanding?apakah karena faktor tarif dia yg cukup tinggi sehingga Promotor berat utk mementaskanya?atau ada penyebab2lain?,anda sbg manager pasti tau permasalahan2 tsb.

Padahal di Trans7 dulu,dia sempat naik ring sebanyak 2kali hanya dlm beberapa bln saja,sayang acara tsb sudah tdk ada..........

Aryo Sulkhan said...

Sy tdk tau permasalahan Roy Mukhlis knapa frekuensi prtndgannya sngt jarang, mgkn soal nilai kontrak yg krng sesuai jg bs. Namun misal Roy mau bertndg di Ring Tinju TVRI pastinya promotor jg tdk akan memberikan harga yg buruk krn kualitas Roy mmg sdh diatas rata2 ptnju Indonesia lapis 2 yg lain, kl dgn CJ & DY mmg Roy msh kalah 1 tingkat. Lalu kmrn sy tanya jg peringkatnya, pdhl peringkatnya di bdn tinju dunia ada yg 5 besar, namun sy lupa peringkat bdn tinju yg mana, tp yg jelas peringkat Roy cukup baik di 3 bdn tinju dunia. Ya ini sy hanya mengira2 saja, lbh pastinya bs ditanyakan lsng kpd Bung Temuzin/P.Sutan Rambing selaku managernya. :)

Anonymous said...

harus ditanya memang

Tonny said...

Inti yang paling utama, tidak ada perhatian pemerintah. Lihat saja sekarang cuma bisa juara 3 sea games sudah bangga padahal jumlah penduduk 220 juta lebih. ketika CJ sudah harum namanya diluar tetap saja presiden gak kasih perhatian. menteri olahraga semua menteri politik dan bukan murni mengerti olahraga. PSSI saja sudah hancur tidak jelas. bulutangkis sudah jarang juara. sebnrnya tinggal tinju yg membanggakan tapi lihat tdk ada perhatian pemerintah, mustinya pemerintah sadar jika olahragwan berprestasi itu adalah iklan gratis bagi negaranya. lihat saja pacquiao yg menjadi selebritis dunia dan mengharumkan filipina

JP said...

Ada beberapa yang harus ditanggapi dari tulisan Tonny:

1. masalah sea games, saya kira tidak ada yg bangga karena posisi no. 3 di sea games. karena dulu kita selalu nomer 1. Tapi sedikit ada rasa senang karena ada perkembangan dari peringkat 5 jadi 3.

2. Untuk perhatian pemerintah, memang saya kuranbg jika dibanding filipina. Presiden Arroyo selalu menelpon Pacquiao jika akan bertanding dan usai memenangkan pertandingan. Tak segan presiden datanhgt ke pesta ultah sang bintang. Disini, CJ harus berjuang untuk sekedar bisa foto bareng presiden. Entah memang itu budaya protokoler yang beda antara RI dan Filipina, atau tergantung personality presiden, gak tahulah.

JP said...

Ada beberapa yang harus ditanggapi dari tulisan Tonny:

1. masalah sea games, saya kira tidak ada yg bangga karena posisi no. 3 di sea games. karena dulu kita selalu nomer 1. Tapi sedikit ada rasa senang karena ada perkembangan dari peringkat 5 jadi 3.

2. Untuk perhatian pemerintah, memang saya kuranbg jika dibanding filipina. Presiden Arroyo selalu menelpon Pacquiao jika akan bertanding dan usai memenangkan pertandingan. Tak segan presiden datanhgt ke pesta ultah sang bintang. Disini, CJ harus berjuang untuk sekedar bisa foto bareng presiden. Entah memang itu budaya protokoler yang beda antara RI dan Filipina, atau tergantung personality presiden, gak tahulah.

Aryo Sulkhan said...

itulah Indonesia, di Semarang tmpt sy tinggal, tdk sedikit atlet yg tdk sejahtera di masa tuanya, ada yg jd tukang parkir, tukang jog, sampai2 yg paling tragis adlh Chasimeros, mantan juara tinju amatir thn 80-an, dia bunuh diri krn tekanan ekonomi tdk bs membayar sekolah anaknya, menyedihkan bukan?

Boxing Indonesia: Who's Next. Boxing is Tinju in Indonesian.